Apakah yang kita rasakan saat mendengar atau membaca kata " Perang " ?.Pasti yang kita bayangkan adalah suara tembakan , letusan bom , dan yang lainnya.
Itulah yang dirasakan oleh saudara-saudara kita di Palestina ketika perang berkecamuk.Hingga detik ini sudah banyak korban yang berjatuhan.
Semua bangunan termasuk sekolah dan rumah sakit , semua hancur lebur dan rata dengan tanah.
Anak-anak kecilpun juga berani menghadapi resiko perang walaupun hanya dengan segenggam batu maupun pasir yang begitu direndahkan.Sebagian dari mereka terpaksa kehilangan segalanya.
Berbagai kekejaman telah dilakukan Israel terhadap mereka.Mulai dari pengeboman sekolah beserta isinya hingga pembunuhan.
Andaikan kita menjadi mereka.Kita merasakan dunia ini begitu pahit dan sangat menyakitkan.
Kita berharap , semoga kita bisa meredakan perasaan mereka.
Sabtu, 03 Maret 2012
Jumat, 02 Maret 2012
RACHEL CORRIE
in memoriam , RACHEL CORRIE
(10 April 1979 - 16 Maret 2003 )
mengingat hampir sembilan tahun kematian Rachel Corrie sejak 2003
Rachel Corrie terlahir dengan nama Aliene Rachel Corrie pada 10 April 1979 di Olympia, Washington, sebelah selatan Puget Sound. Semasa sekolah, dia aktif sebagai sukarelawan yang menyuarakan masalah kelaparan, gelandangan, dan lingkungan di Barat daya Pasifik. Setelah merampungkan studinya dalam bidang seni liberal di Evergreen State College, Corrie bertolak ke wilayah pendudukan Palestina pada Januari 2003. Di Rafah, Jalur Gaza (Palestina), dia mengabdikan diri sebagai aktivis perdamaian tanpa kekerasan dan pengamat hak asasi manusia hingga dirinya menemui kematian yang tragis pada 16 Maret 2003. Corrie adalah penulis, pujangga, dan seniman bersemangat dan sangat peduli terhadap semua hal yang berkenaan dengan umat manusia.
Salah satu buku karangannya adalah “Let Me Stand Alone”. Ada satu quote yang sangat terkenal dan telah banyak ditulis di banyak surat kabar dan blog. Quote nya yaitu :
"Kita harus memahami bahwa mereka memimpikan mimpi-mimpi kita, dan kita memimpikan mimpi-mimpi mereka" – Rachel Corrie
Let Me Stand Alone mengungkap bakat Rachel Corrie yang mencolok sebagai pujangga dan penulis, sekaligus menuturkan kisah hidupnya dalam kata-katanya sendiri, mulai dari renungan-renungannya, hingga rangkaian e-mail terakhirnya. Tulisannya menghidupkan segala hal yang bermakna di usia muda—munculnya kesadaran diri, haus akan cita-cita dan keinginannya dalam menjalin hubungan dengan sesama, dekat maupun jauh.
Tampak jelas puisi-puisi Corrie meluapkan kegairahan dan menumbuhkan semangat sosok anak muda yang tekadnya kuat terhadap dunia yang lebih baik dan lebih damai, yang membawanya dari Olympia, Washington, ke Timur Tengah.
Corrie menulis tentang isu-isu yang mencuat di masanya, juga tentang kecemasan seorang remaja Amerika; semuanya dengan gairah, rasa kasih, wawasan, dan humor yang menggebu-gebu. Tulisannya mengumandangkan pendiriannya serta menggemakan keyakinan yang telah lama dijunjungnya perihal ke-satu-an umat manusia di seluruh dunia.
Disaat gadis-gadis seumurannya tengah asik dengan gaya hidup, pacaran, dan bersenang-senang, ia justru berkerja untuk sesuatu yg lebih besar, kini dengan pengorbanan nyawanya, ia telah mencantumkan namanya dalam perjuangan yang akan dikenang sepanjang masa dan akan selalu diingat oleh semua orang.
Ketika tentara Israel akan nerobohkan rumah rakyat Palestina menggunakan Buldozer,Rachel langsung turun tangan dan memperingati tentara itu.Tapi,apakah tentara itu mendengarnya atau tidak kita tak tahu-menahu.Dengan nyamannya tentara itu langsung maju,menabrak ,hingga melindas hingga remuk tubuh Corrie yang saat itu menggunakan jaket oranye.
Kini tujuh tahun telah berlalu dan berbagai perlawanan lain terus bermunculan melawan dan menyuarakan perjuangan untuk kemerdekaan rakyat Palestina.
Selamat tinggal Rachel Corrie
(10 April 1979 - 16 Maret 2003 )
mengingat hampir sembilan tahun kematian Rachel Corrie sejak 2003
Rachel Corrie terlahir dengan nama Aliene Rachel Corrie pada 10 April 1979 di Olympia, Washington, sebelah selatan Puget Sound. Semasa sekolah, dia aktif sebagai sukarelawan yang menyuarakan masalah kelaparan, gelandangan, dan lingkungan di Barat daya Pasifik. Setelah merampungkan studinya dalam bidang seni liberal di Evergreen State College, Corrie bertolak ke wilayah pendudukan Palestina pada Januari 2003. Di Rafah, Jalur Gaza (Palestina), dia mengabdikan diri sebagai aktivis perdamaian tanpa kekerasan dan pengamat hak asasi manusia hingga dirinya menemui kematian yang tragis pada 16 Maret 2003. Corrie adalah penulis, pujangga, dan seniman bersemangat dan sangat peduli terhadap semua hal yang berkenaan dengan umat manusia.
Salah satu buku karangannya adalah “Let Me Stand Alone”. Ada satu quote yang sangat terkenal dan telah banyak ditulis di banyak surat kabar dan blog. Quote nya yaitu :
"Kita harus memahami bahwa mereka memimpikan mimpi-mimpi kita, dan kita memimpikan mimpi-mimpi mereka" – Rachel Corrie
Let Me Stand Alone mengungkap bakat Rachel Corrie yang mencolok sebagai pujangga dan penulis, sekaligus menuturkan kisah hidupnya dalam kata-katanya sendiri, mulai dari renungan-renungannya, hingga rangkaian e-mail terakhirnya. Tulisannya menghidupkan segala hal yang bermakna di usia muda—munculnya kesadaran diri, haus akan cita-cita dan keinginannya dalam menjalin hubungan dengan sesama, dekat maupun jauh.
Tampak jelas puisi-puisi Corrie meluapkan kegairahan dan menumbuhkan semangat sosok anak muda yang tekadnya kuat terhadap dunia yang lebih baik dan lebih damai, yang membawanya dari Olympia, Washington, ke Timur Tengah.
Corrie menulis tentang isu-isu yang mencuat di masanya, juga tentang kecemasan seorang remaja Amerika; semuanya dengan gairah, rasa kasih, wawasan, dan humor yang menggebu-gebu. Tulisannya mengumandangkan pendiriannya serta menggemakan keyakinan yang telah lama dijunjungnya perihal ke-satu-an umat manusia di seluruh dunia.
Disaat gadis-gadis seumurannya tengah asik dengan gaya hidup, pacaran, dan bersenang-senang, ia justru berkerja untuk sesuatu yg lebih besar, kini dengan pengorbanan nyawanya, ia telah mencantumkan namanya dalam perjuangan yang akan dikenang sepanjang masa dan akan selalu diingat oleh semua orang.
Ketika tentara Israel akan nerobohkan rumah rakyat Palestina menggunakan Buldozer,Rachel langsung turun tangan dan memperingati tentara itu.Tapi,apakah tentara itu mendengarnya atau tidak kita tak tahu-menahu.Dengan nyamannya tentara itu langsung maju,menabrak ,hingga melindas hingga remuk tubuh Corrie yang saat itu menggunakan jaket oranye.
Kini tujuh tahun telah berlalu dan berbagai perlawanan lain terus bermunculan melawan dan menyuarakan perjuangan untuk kemerdekaan rakyat Palestina.
Selamat tinggal Rachel Corrie
Langganan:
Postingan (Atom)